Warren Buffett Melepas Kemudi, Warisannya Tetap Melaju

Di sebuah aula di Omaha, Nebraska, Mei tahun lalu, ribuan pemegang saham menyaksikan momen yang mereka nanti-nantikan sekaligus khawatirkan selama puluhan tahun: Warren Buffett mengumumkan akan melepas jabatan CEO Berkshire Hathaway. Awal tahun ini, tongkat estafet resmi berpindah ke tangan Greg Abel, sementara pria yang akrab disapa “Oracle of Omaha” itu tetap duduk sebagai Chairman perusahaan.

Bagi jutaan orang yang mengikuti kiprahnya, mundurnya Buffett dari kursi eksekutif bukan penutup cerita. Momen ini justru mengajak kita menengok kembali perjalanan seorang anak penjual permen karet di jalanan Omaha, yang tumbuh menjadi salah satu investor paling berpengaruh di dunia.

Buffett lahir pada 30 Agustus 1930, dari keluarga yang akrab dengan dunia saham. Ayahnya, Howard Buffett, bekerja sebagai pialang sekaligus anggota Kongres Amerika Serikat. Namun jiwa dagang Buffett kecil tumbuh dari tangannya sendiri. Ia menjual permen karet dan botol Coca-Cola dari pintu ke pintu, mengantar koran setiap pagi, lalu membeli mesin pinball bekas untuk disewakan ke tukang cukur langganannya. Di usia 13 tahun, ia sudah melaporkan pajak penghasilan pertamanya, lengkap dengan klaim potongan untuk sepeda yang dipakainya mengantar koran.

Jalan pendidikannya berliku. Buffett sempat kuliah di Wharton School sebelum pindah ke University of Nebraska agar bisa lulus lebih cepat. Lamarannya ke Harvard Business School ditolak. Kegagalan itu belakangan ia sebut sebagai berkah tersembunyi. Ia lalu diterima di Columbia Business School dan berguru langsung kepada Benjamin Graham, tokoh yang dijuluki bapak investasi bernilai (value investing). Dari Graham, Buffett memegang satu prinsip yang terus dipakainya seumur hidup: membeli perusahaan jauh di bawah nilai sebenarnya, lalu menunggu dengan sabar sampai pasar menyadarinya.

Setelah sempat bekerja di perusahaan milik gurunya itu, Buffett kembali ke Omaha dan mendirikan Buffett Partnership pada 1956 dengan modal dari keluarga dan kerabat dekat. Kemitraan ini berkembang cepat, dan pada 1965 ia mengambil alih Berkshire Hathaway, pabrik tekstil yang saat itu megap-megap. Alih-alih menyelamatkan bisnis tekstilnya, Buffett justru mengubah Berkshire menjadi kendaraan investasi. Bersama Charlie Munger, sahabat sekaligus mitra bisnisnya selama puluhan tahun yang wafat pada 2023, ia mengarahkan uang perusahaan ke bisnis asuransi seperti GEICO, produsen permen See’s Candies, saham Coca-Cola, dan puluhan perusahaan lain, hingga Berkshire tumbuh menjadi konglomerasi raksasa yang dikenal dunia.

Pengaruh Buffett tak berhenti di angka-angka. Surat tahunannya untuk pemegang saham, ditulis dengan bahasa sederhana dan sesekali diselingi humor, dibaca luas oleh investor pemula maupun profesional di seluruh dunia. Filosofinya soal kesabaran dan kejujuran dalam berbisnis membuatnya dijadikan rujukan jauh melampaui Wall Street.

Kesederhanaan tetap melekat pada Buffett, bahkan setelah kekayaannya membesar. Ia masih tinggal di rumah yang dibelinya di Omaha sejak 1958, gemar minum Cherry Coke, dan tetap singgah di restoran cepat saji favoritnya untuk sarapan. Dalam hidup pribadinya, ia menikah dengan Susan Thompson pada 1952. Keduanya berpisah rumah pada akhir 1970-an namun tak pernah bercerai, sampai Susan meninggal dunia pada 2004. Dua tahun berselang, Buffett menikahi Astrid Menks, teman dekat yang telah lama mendampinginya. Dari pernikahannya dengan Susan, ia memiliki tiga anak yang kini aktif mengelola yayasan-yayasan keluarga.

Nama Buffett juga lekat dengan filantropi. Bersama Bill dan Melinda Gates, ia menggagas The Giving Pledge pada 2010, mengajak para miliarder dunia berjanji menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk kegiatan sosial. Buffett sendiri telah menyerahkan sebagian besar kekayaannya kepada yayasan milik keluarga Gates dan yayasan keluarganya sendiri, alih-alih menumpuknya untuk diwariskan begitu saja.

Kini, setelah lebih dari enam dekade memimpin, Buffett memilih mundur secara bertahap dan terencana, bukan karena terpaksa. Greg Abel, yang sudah disiapkan sejak 2018 dan resmi ditunjuk pada pertemuan pemegang saham tahun lalu, kini memegang kendali operasional Berkshire. Buffett sendiri tetap datang ke kantor, memberi masukan, dan menjaga budaya perusahaan yang dibangunnya sejak muda. Ia melepas kemudi, tapi arah yang sudah ia tetapkan sepertinya akan terus jadi peta bagi generasi investor berikutnya.

Tinggalkan Balasan