Psikologi Utang: Kenapa Generasi Muda Merasa Nyaman Berutang Lewat Paylater

Psikologi Utang,Ada perbedaan yang jarang disadari antara membayar dengan uang tunai dan menekan tombol “checkout” di aplikasi. Membayar tunai berarti menyerahkan sesuatu yang nyata dari tangan sendiri, ada lembaran uang yang berkurang, terlihat, terasa. Menekan tombol paylater tidak terasa seperti itu sama sekali. Tidak ada yang berkurang hari ini. Barang datang sekarang, tagihan datang nanti, dan otak kita, ternyata, memang dirancang untuk memperlakukan kedua momen itu secara sangat berbeda.

Fenomena ini bukan cuma soal gaya hidup atau godaan konsumerisme semata. Ada mekanisme psikologis dan ekonomi perilaku yang cukup jelas di baliknya, dan datanya di Indonesia menunjukkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang paling rentan terjebak di dalamnya.

Rasa Sakit yang Hilang Saat Kita Tidak Membayar Tunai

Dalam ekonomi perilaku, ada istilah yang disebut “pain of paying”, rasa sakit psikologis yang muncul saat kita mengeluarkan uang. Riset menunjukkan bahwa membayar dengan uang tunai memberi rasa kehilangan yang nyata karena kita secara fisik menyerahkan sesuatu sebagai ganti barang yang dibeli, sementara metode pembayaran nontunai membuat pertukaran itu terasa jauh lebih abstrak (Illinois Extension, 2023). Fenomena ini dikenal sebagai “cashless effect”: kecenderungan untuk lebih rela membayar lebih mahal ketika kita tidak benar-benar melihat uang berkurang, karena rasa sakit psikologis atas kehilangan uang itu jauh lebih kecil (The Decision Lab, n.d.).

Paylater mengambil logika ini dan mendorongnya lebih jauh lagi. Bukan hanya uangnya yang tidak terlihat, tetapi momen membayarnya sendiri ditunda ke masa depan. Riset yang meninjau literatur tentang transaksi digital menemukan bahwa kemudahan transaksi digital, berkurangnya rasa sakit membayar, dan bias kognitif seperti mental accounting dan present bias secara bersama-sama berkontribusi pada meningkatnya perilaku belanja impulsif (Present Bias: Lessons Learned and To Be Learned, dalam ResearchGate). Dengan kata lain, paylater bukan sekadar metode pembayaran baru. Ia adalah metode yang secara khusus meminimalkan sinyal psikologis yang biasanya membuat kita berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu.

Diri Hari Ini Melawan Diri Masa Depan

Ada satu lagi konsep yang menjelaskan kenapa cicilan terasa jauh lebih ringan daripada kenyataannya: present bias, atau dikenal juga sebagai hyperbolic discounting. Konsep ini menjelaskan kecenderungan manusia untuk memprioritaskan kenikmatan langsung dibanding manfaat atau konsekuensi di masa depan (Envelope Budgeting, n.d.). Secara praktis, otak kita memperlakukan diri kita hari ini dan diri kita di masa depan sebagai dua orang yang berbeda, dan otak jauh lebih peduli pada versi diri yang ada sekarang (Envelope Budgeting, n.d.).

Konsep ini pertama kali dirumuskan secara formal oleh psikolog George Ainslie pada 1975 lewat eksperimen pada hewan, lalu diformalkan dalam ilmu ekonomi oleh David Laibson pada 1997 (Atticus Li, n.d.). Semakin dekat sebuah hadiah atau kenikmatan terasa “sekarang”, semakin besar bobotnya dalam keputusan seseorang, dan inilah prinsip yang, disadari atau tidak, dimanfaatkan oleh desain produk finansial modern untuk mendorong pembelian instan (Atticus Li, n.d.). Paylater secara struktural adalah produk yang memanfaatkan present bias ini secara langsung: kenikmatan memiliki barang didapat sekarang, sementara rasa sakit membayarnya dipindahkan sepenuhnya ke “diri masa depan” yang, secara psikologis, terasa jauh lebih tidak nyata dan tidak mendesak.

Data Indonesia: Ketika Cicilan Menjadi Gaya Hidup

Kekhawatiran ini bukan sekadar teori. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, secara eksplisit mengatakan bahwa perilaku konsumsi masyarakat, khususnya generasi muda, menunjukkan kecenderungan menjadikan cicilan berbunga jangka pendek sebagai bagian dari gaya hidup (Detik, 2026). Data OJK per Juni 2026 mencatat outstanding paylater perbankan mencapai Rp30,71 triliun, tumbuh 33,54 persen secara tahunan, sementara porsi pembiayaan lewat perusahaan multifinance melesat 57,02 persen menjadi Rp13,40 triliun (Rancak Media, 2026). Direktur Utama Pefindo Biro Kredit bahkan menyebut penggunaan paylater kini sudah menjadi gaya hidup bagi Gen Z dan milenial, sampai ke pembelian kebutuhan kecil seperti kopi lewat skema QRIS paylater (Tempo, 2026).

Yang lebih mengkhawatirkan adalah siapa yang paling terdampak ketika cicilan ini gagal dibayar. Salah satu penyedia layanan paylater mengungkapkan bahwa penyumbang terbesar kredit macet adalah pengguna dengan rentang usia 15 hingga 35 tahun (Tempo, 2026). Data dari laporan fintech lending OJK tahun 2024 menunjukkan pola serupa: 64,8 persen pengguna pinjaman daring berasal dari kelompok usia 19 hingga 34 tahun, dan kelompok usia ini menyumbang lebih dari 52 persen dari total kredit macet (How Money Indonesia, 2025). Transaksi paylater sendiri tercatat meningkat 54 persen secara tahunan pada 2024 (How Money Indonesia, 2025).

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengaitkan lonjakan ini dengan kondisi ekonomi yang menekan: daya beli masyarakat menurun akibat pemutusan hubungan kerja yang masif, sementara kebutuhan hidup tetap atau bahkan meningkat, sehingga paylater menjadi jalan keluar jangka pendek yang mudah diakses dibandingkan meminjam ke rentenir atau mengurus kartu kredit yang lebih rumit (Tempo, 2025). Ini bukan sekadar soal generasi muda yang boros. Ada tekanan ekonomi riil yang membuat kemudahan paylater terasa seperti solusi, bukan jebakan, setidaknya sampai tagihannya benar-benar jatuh tempo.

Kenapa Ini Sulit Diselesaikan Hanya dengan “Lebih Disiplin”

Nasihat semacam “kurangi belanja” atau “lebih bijak mengatur keuangan” sering gagal karena tidak menyentuh akar masalahnya: dorongan untuk membeli sekarang muncul justru saat rasa sakit membayar sedang berada di titik paling lemah, dan saat itulah keputusan diambil. Riset tentang present bias menunjukkan bahwa strategi yang benar-benar efektif biasanya bersifat struktural, bukan sekadar mengandalkan niat baik. Salah satu solusi yang paling banyak divalidasi secara empiris adalah mengotomatiskan tabungan sebelum uang sempat masuk ke rekening yang biasa dipakai belanja, sehingga “diri masa depan” tidak lagi bergantung pada kedisiplinan “diri sekarang” (Envelope Budgeting, n.d.).

Regulator di Indonesia juga sudah mulai bergerak ke arah solusi struktural, bukan sekadar imbauan. OJK tengah mengkaji langkah pengetatan regulasi paylater sebagai respons atas meningkatnya rasio kredit bermasalah, dengan fokus utama memperketat sistem penilaian kemampuan finansial calon pengguna atau credit scoring sebelum akses pinjaman diberikan (MOST 1058FM, 2026). Ketua Dewan Komisioner OJK juga secara terbuka menyatakan keprihatinan atas fenomena over-indebtedness, atau masyarakat yang kebanyakan utang, sebagai konsekuensi langsung dari kemudahan yang ditawarkan paylater

Tinggalkan Balasan