Ketika pemerintah merilis data mengenai pertumbuhan Ekonomi Tumbuh, kita sering disuguhi berbagai angka yang menunjukkan perkembangan positif. Perekonomian Indonesia terus bergerak, investasi bertambah, kegiatan masyarakat semakin aktif, dan sejumlah sektor mengalami pertumbuhan. Namun, di balik kabar baik tersebut, muncul pertanyaan yang cukup sederhana jika ekonomi terus tumbuh, mengapa kondisi keuangan sehari-hari masih terasa pas-pasan?
Pertanyaan tersebut sebenarnya cukup wajar untuk muncul. Pertumbuhan ekonomi memang menjadi salah satu indikator penting bagi kondisi perekonomian suatu negara. Namun, peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) tidak selalu langsung dirasakan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun perekonomian secara keseluruhan mengalami pertumbuhan, sebagian masyarakat masih dapat menghadapi berbagai tekanan, seperti meningkatnya biaya kebutuhan, pendapatan yang terbatas, dan kebutuhan hidup yang semakin banyak.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Sementara itu, jika dilihat secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada triwulan II 2026, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berdasarkan harga berlaku tercatat sebesar Rp6.552,1 triliun.
Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional memang terus berjalan. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak secara otomatis berarti pendapatan setiap orang meningkat dengan persentase yang sama. Hal ini menyoroti perbedaan antara ekonomi yang tumbuh dan perasaan memiliki lebih banyak uang di kantong.
Pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi mencerminkan adanya peningkatan dalam produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara. Namun, kondisi keuangan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti besarnya pendapatan, harga kebutuhan sehari-hari, kesempatan mendapatkan pekerjaan, jumlah pengeluaran rumah tangga, hingga kemampuan untuk menyimpan sebagian penghasilan setelah kebutuhan utama terpenuhi.
BPS juga menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga merupakan bagian penting dalam perekonomian Indonesia. Bahkan, menurut laporan evaluasi Strategi Nasional Perlindungan Konsumen yang diterbitkan Bappenas, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam PDB Indonesia dan pada 2025 kontribusinya tercatat sekitar 53 persen terhadap PDB.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang merasakan hasil dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendorong dan menjaga pertumbuhan ekonomi tersebut.
Ironisnya, tingginya pengeluaran masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari tidak selalu menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan. Pengeluaran yang semakin besar belum tentu disebabkan oleh meningkatnya pendapatan, tetapi bisa terjadi karena harga kebutuhan pokok dan berbagai barang maupun jasa mengalami kenaikan.
Ketika pendapatan yang diterima tetap, kenaikan harga makanan, transportasi, pulsa, kebutuhan pendidikan, serta keperluan lainnya dapat membuat uang yang dimiliki lebih cepat habis. Akibatnya, meskipun aktivitas konsumsi masyarakat secara nasional terus berlangsung, kemampuan untuk menyisihkan pendapatan dan menabung dapat menjadi semakin terbatas.
Oleh karena itu, pertumbuhan konsumsi perlu dibedakan dari peningkatan kesejahteraan. Tingginya tingkat konsumsi memang menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tetap berjalan, tetapi tidak selalu berarti kondisi keuangan masyarakat secara keseluruhan semakin baik dan sejahtera.
Bappenas sendiri dalam dokumen perkembangan ekonomi menempatkan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang penting perekonomian. Dalam proyeksi 2026, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sekitar 5,2 persen. Bappenas juga menjelaskan bahwa kebijakan seperti program Makan Bergizi Gratis, bantuan sosial yang tepat sasaran, stimulus fiskal, serta kebijakan untuk menjaga stabilitas harga diarahkan antara lain untuk mendukung daya beli masyarakat.
Namun, menjaga daya beli tidak hanya berarti membuat masyarakat tetap mampu membeli barang. Yang tidak kalah penting adalah memastikan pendapatan masyarakat tumbuh dan kesempatan memperoleh pekerjaan yang produktif semakin luas.
Bappenas dalam laporan perkembangan ekonomi Indonesia dan dunia triwulan I 2026 mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut mencapai 5,61 persen dan ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga. Pada saat yang sama, sektor akomodasi dan makan minum tumbuh tinggi, mencapai 13,14 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di kalangan masyarakat memang sedang bergerak. Masyarakat bepergian, makan di luar, berbelanja, menggunakan transportasi, serta melakukan berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Namun, peningkatan aktivitas tersebut tidak serta-merta menjawab pertanyaan apakah masyarakat memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menabung.
Persoalan lainnya adalah mengenai distribusi manfaat dari pertumbuhan tersebut. Angka pertumbuhan nasional memberikan gambaran umum tentang perekonomian Indonesia secara keseluruhan; namun, kondisinya bervariasi antarwilayah, sektor pekerjaan, dan kelompok sosial. Sebagian sektor tumbuh pesat, sementara sektor lainnya mungkin menghadapi tekanan. Meskipun pendapatan sebagian pekerja telah meningkat, ada pula pekerja lain yang pendapatannya relatif tidak berubah.