Setiap kali BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi, saya sering bertanya, Hidup Makin Berat sebenarnya pertumbuhan itu dirasakan oleh siapa? Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Jika dihitung sampai semester pertama, pertumbuhannya mencapai 5,45 persen, bahkan menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir untuk periode yang sama. Angka tersebut memang terlihat bagus. Tapi coba lihat kehidupan Hidup Makin Berat sehari-hari. Banyak masyarakat masih merasa pengeluaran semakin besar, harga kebutuhan pokok naik turun, sementara penghasilan belum banyak berubah. Jadi, ada jarak antara angka pertumbuhan ekonomi yang terlihat bagus dengan kondisi yang dirasakan masyarakat.
Pertumbuhan Ada, Tapi Ketimpangan Juga Naik
BPS juga mencatat rasio gini Indonesia pada Maret 2026 sebesar 0,368, naik dari 0,363 pada September 2025. Di perkotaan, angkanya bahkan mencapai sekitar 0,387. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum tentu dirasakan secara merata oleh semua kelompok masyarakat. Hal ini menjadi menarik karena pada saat yang sama ekonomi tumbuh 5,29 persen. Artinya, pertumbuhan memang terjadi, tetapi ketimpangan juga masih menjadi persoalan. Keduanya seharusnya dilihat bersama, bukan hanya menonjolkan angka pertumbuhan. Pertumbuhan pada triwulan II 2026 juga banyak didorong oleh belanja pemerintah, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh lebih lambat. Jadi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu berarti daya beli masyarakat juga ikut menguat.
Kenapa Hidup Terasa Makin Berat?
Beban hidup masyarakat semakin terasa dari biaya rumah, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan pokok yang terus membutuhkan pengeluaran besar. Sementara itu, kenaikan pendapatan belum tentu mampu mengikuti kenaikan biaya hidup. Pertumbuhan juga bisa terjadi pada sektor-sektor yang tidak langsung dirasakan masyarakat, seperti proyek konstruksi besar, jasa kelas atas, atau industri padat modal. Akibatnya, PDB bisa naik, tetapi masyarakat kecil belum tentu merasakan perubahan yang sama dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, Apakah Pertumbuhan Ekonomi Itu Palsu?
Bukan berarti data BPS tidak benar. Pertumbuhan di atas 5 persen selama lima triwulan berturut-turut memang merupakan capaian yang penting. Namun, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dan kesejahteraan masyarakat adalah dua hal yang berbeda.
Bappenas sendiri telah menekankan pentingnya pemerataan pembangunan, bukan hanya mengejar angka pertumbuhan. Tantangannya adalah memastikan kebijakan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat dan tidak berhenti sebagai rencana di atas kertas.
Pertumbuhan yang Harus Bisa Dirasakan
Menurut saya, pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya dilihat dari angka PDB. Yang tidak kalah penting adalah apakah masyarakat mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, masih bisa menabung, dan mampu membiayai pendidikan tanpa merasa terlalu terbebani. Jadi, ekonomi memang bisa tumbuh secara statistik. Tetapi kalau masyarakat masih merasa penghasilannya tidak cukup untuk mengejar biaya hidup, wajar jika muncul pertanyaan: pertumbuhan ekonomi ini sebenarnya sudah dirasakan oleh siapa?