Pada zaman sekarang, penggunaan Berbahasa Inggris memanglah sangat penting, di mana bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang digunakan oleh banyak orang di dunia. Kemampuan berbahasa Inggris ini membantu kita untuk bisa berkomunikasi dengan orang asing dan juga penting bagi mereka yang ingin berkomunikasi secara efektif dan sukses di dunia bisnis, pendidikan, maupun sosial.
Dalam belajar bahasa Inggris, buku bukanlah satu-satunya hal yang dapat kita gunakan sebagai bahan untuk belajar, apalagi di era modernisasi sekarang. Di era sekarang, perkembangan media digital sudah sangat pesat, memudahkan kita untuk mendapatkan informasi. Bayangkan belajar bahasa Inggris tanpa harus memulai dari halaman buku tata bahasa. Sebuah film membawa kita ke ruang kelas, kantor, rumah, atau jalanan di negara berbahasa Inggris. Di sana, kata-kata tidak berdiri sendiri. Ada intonasi, ekspresi wajah, jeda, aksen, gerak tubuh, dan situasi yang membantu kita menebak makna. Itulah sebabnya film dapat menjadi teman belajar yang menyenangkan asalkan kita tidak berhenti pada kegiatan menonton pasif.
Dalam studi kualitatif yang terbit dalam BLAZE, para informan memandang bahwa menonton film berbahasa Inggris membantu menyimak, berbicara, kosakata, kefasihan, pelafalan, serta pemahaman bahasa dalam konteks kehidupan nyata. Mereka juga menilai film lebih menarik daripada pembelajaran yang hanya berpusat pada buku teks, tata bahasa, dan lembar kerja. Temuan ini menggambarkan pengalaman dan persepsi peserta, bukan hasil eksperimen yang membuktikan hubungan sebab-akibat untuk seluruh pelajar.
Mengapa film dapat membantu?
Pertama, film memberikan latihan listening yang lebih dekat dengan bahasa nyata. Dialog pada film mampu menunjukkan bahwa bahasa lisan tidak selalu tersusun seperti contoh kalimat di buku. Ada kata yang dipendekkan, aksen, jeda, pengulangan, pengucapan yang beragam, serta ungkapan yang maknanya baru jelas jika kita bisa lebih memahami situasinya.
Kedua, film memperkaya kosakata dalam konteks. Kata baru lebih mudah diingat ketika muncul bersama adegan, konflik, dan ekspresi tokoh. Kita bukan hanya mengetahui terjemahan apologize, misalnya, tetapi juga melihat kapan seseorang meminta maaf, bagaimana nada suaranya, dan jawaban yang mungkin muncul.
Ketiga, film menyediakan model speaking dan pelafalan. Penonton dapat mengamati bagaimana tokoh membuka percakapan, menyela dengan sopan, menyatakan ketidaksetujuan, atau mengakhiri pembicaraan. Menirukan dialog membantu melatih bunyi, tekanan, intonasi, dan kelancaran. Latihan ini dikenal sebagai shadowing: kita mendengarkan potongan pendek, lalu menirukannya sedekat mungkin dengan suara asli.
Keempat, film memperkenalkan budaya dan cara berkomunikasi. Bahasa selalu terkait norma sosial. Cara menyapa orang yang lebih tua, penggunaan humor, jarak saat berbicara, atau makna sebuah gestur dapat berbeda antarbudaya. Studi BLAZE melaporkan bahwa film membantu informan memahami nuansa budaya, norma sosial, variasi pragmatik, dan gaya komunikasi.
Cara menonton secara aktif
Menonton aktif berarti menjadikan film sebagai bahan latihan dengan tujuan yang jelas. Langkah berikut dapat membantu.
Pilih film sesuai level dan tujuan. Pemula sebaiknya memilih cerita dengan alur mudah, pengucapan relatif jelas, dan kosakata sehari-hari. Kartun atau komedi sering lebih mudah diikuti. Pembelajar tingkat lanjut dapat memilih film berdasarkan kebutuhan, seperti aksen tertentu, bahasa akademik, slang, atau percakapan profesional.
Gunakan subtitle secara bertahap. Mulailah dengan audio bahasa Inggris dan subtitle bahasa Inggris agar telinga dapat mengaitkan suara dengan bentuk tertulis. Menonton tanpa teks pada pengulangan berikutnya dapat menguji kemampuan menyimak. Hindari ketergantungan langsung pada subtitle bahasa Indonesia karena perhatian dapat beralih dari bunyi dan struktur bahasa Inggris.
Jeda dan ulangi dialog pendek. Tidak perlu menghentikan film setiap detik. Pilih satu atau dua adegan berdurasi singkat. Dengarkan sekali untuk memahami maksud, jeda, baca subtitle, lalu dengarkan lagi sambil memperhatikan pengucapan.
Lakukan shadowing dan latihan bicara. Tirukan tokoh setelah atau hampir bersamaan dengan dialognya. Rekam suara sendiri bila memungkinkan, kemudian bandingkan kejelasannya dengan adegan asli. Sesudah itu, kamu juga bisa mengubah sedikit isi dialog dan menggunakannya dalam percakapan singkat bersama teman.
Bagi kegiatan menjadi tiga tahap. Sebelum menonton (pre-viewing), kenali tokoh, konteks, dan beberapa kosakata kunci. Saat menonton (during-viewing), jawab pertanyaan sederhana atau tandai ungkapan yang terdengar. Sesudah menonton (post-viewing), ceritakan kembali adegan, diskusikan keputusan tokoh, atau lakukan role-play.
Film bukan pengganti seluruh pembelajaran bahasa Inggris. Dialog yang cepat, aksen yang belum familiar, idiom, slang, dan kosakata kompleks dapat membuat pemula merasa kesulitan. Selain itu, memahami dialog melalui subtitle belum tentu berarti mampu menyimak tanpa bantuan.
Karena itu, pilih materi secara cermat dan berlatih secara konsisten. Film berpotensi menjadi media belajar yang kaya apabila dipilih sesuai level, digunakan berulang, dan disertai tugas menyimak serta berbicara. Mulailah dari adegan pendek yang disukai. Dengarkan, baca, catat, tirukan, lalu gunakan ungkapannya. Dengan kebiasaan kecil yang terarah, kegemaran menonton dapat menjadi kesempatan untuk berbicara bahasa Inggris dengan lebih percaya diri dan memahami bahasa Inggris sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar kumpulan soal ujian.