Pernah tidak kita berniat membuka HP hanya sebentar, tetapi akhirnya malah scrolling sampai lupa waktu? Awalnya hanya ingin membalas pesan atau melihat satu video. Namun, tanpa terasa kita sudah berpindah dari satu konten ke konten lainnya. Hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau dilakukan terus-menerus, waktu yang terpakai bisa cukup banyak. Akibatnya, kita sering merasa masih ingin melihat “satu lagi”. Padahal satu konten bisa berubah menjadi puluhan bahkan ratusan konten. Waktu yang awalnya hanya ingin digunakan beberapa menit akhirnya menjadi jauh lebih lama.
Handphone sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap aktivitas dapat dilakukan melalui handphone, mulai dari berkomunikasi, mencari informasi, belajar, hingga mencari hiburan. Namun, tanpa disadari, penggunaan handphone yang terlalu lama dapat membuat waktu kita banyak dihabiskan untuk scrolling tanpa tujuan.
Di Indonesia screen time sekitar 5,7 jam per hari. Angka tersebut menunjukkan betapa dekatnya kehidupan kita dengan layar.Dalam kehidupan sehari-hari, HP memang sangat membantu. Kita bisa mencari informasi, berkomunikasi, bekerja, belajar, bahkan mencari hiburan melalui HP. Masalahnya bukan pada HP-nya, tetapi bagaimana kita menggunakannya.
Mengubah kebiasaan tidak harus dilakukan secara langsung dan besar-besaran. Kita bisa memulainya dari hal sederhana, seperti mengurangi waktu scrolling, membaca buku, berolahraga, melakukan kegiatan bersama keluarga atau teman, atau menyediakan waktu tertentu tanpa gadget. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan kecil tersebut bisa perlahan mengubah cara kita menggunakan waktu sehari-hari.
Menurut saya, konsep tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari . Justru kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten bisa lebih mudah dipertahankan. Mengurangi penggunaan HP tidak berarti harus berhenti menggunakan teknologi. Kita tetap bisa menggunakan HP, tetapi mulai menentukan kapan dan untuk apa kita menggunakannya. Contohnya, kita bisa mencoba tidak langsung membuka HP setelah bangun tidur. Waktu tersebut dapat digunakan untuk merapikan tempat tidur, sarapan, membaca, beribadah, atau sekadar mempersiapkan diri sebelum memulai aktivitas. Begitu juga ketika sedang mengerjakan sesuatu. Menaruh HP sedikit lebih jauh atau mematikan notifikasi yang tidak penting dapat membantu kita lebih fokus. Hal yang tidak kalah penting adalah menyadari bahwa perubahan kebiasaan membutuhkan proses.
Selain itu, lingkungan juga memiliki pengaruh dalam membentuk kebiasaan. Ketika kita berada di lingkungan yang mendukung, menjaga kebiasaan baru bisa terasa lebih mudah. Dalam hal tersebut, dukungan lingkungan juga bisa sebagai salah satu hal yang dapat membantu seseorang mempertahankan perubahan kebiasaan.
Ada satu hal yang mungkin mulai hilang karena terlalu sering menggunakan HP, yaitu kemampuan untuk menikmati waktu kosong. Dulu, menunggu seseorang datang mungkin hanya berarti duduk dan menunggu. Sekarang, waktu menunggu sering langsung diisi dengan scrolling. Saat sedang sendirian, kita juga merasa harus selalu memiliki sesuatu untuk dilihat. Padahal, tidak semua waktu kosong harus diisi dengan layar. Sesekali membiarkan diri merasa bosan juga bukan sesuatu yang buruk. Dari rasa bosan tersebut, kita mungkin justru menemukan kegiatan baru, mendapatkan ide, atau memiliki waktu untuk berpikir. Teknologi memang membuat banyak hal menjadi lebih cepat, tetapi bukan berarti seluruh waktu kita harus dipenuhi dengan informasi.
Penggunaan HP dalam kehidupan sehari-hari memang sulit dihindari, tetapi bukan berarti kita tidak bisa mengaturnya. Masalahnya bukan terletak pada keberadaan HP, melainkan pada kebiasaan kita dalam menggunakannya. Dengan mulai mengurangi scrolling tanpa tujuan, mengatur waktu penggunaan, dan menggantinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, kita dapat menggunakan teknologi secara lebih sadar.
Jadi, mungkin sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri: kita yang menggunakan HP, atau justru HP yang mulai menggunakan kita?